• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

Kamis, 03 September 2015

Megaproyek Kereta Cepat Miliaran Dollar, Sudah Perlukah Kita?

Sumber gambar: detik.com
Sebelum saya memulai tulisan ini, mungkin sebelumnya saya meminta maaf apabila saya terkesan so tau, ada kata yang kurang berkenan dan penggunaa kalimat-kalimat yang tidak rapi. Saya hanya ingin mencurahkan ganjalan di hati saya yang semoga bisa dibaca oleh banyak orang termasuk Bapak/ Ibu di pemerintahan khususnya Bapak Presiden Joko Widodo.


Belakangan ini sangat gencar diberitakan mengenai rencana pembagunan kereta cepat Jakarta - Bandung yang katanya proyek pengerjaannya diperebutkan dua negara besar di Asia yaitu Jepang dan Tiongkok. Kita tahu, kedua negara ini memang ahli dalam pembangunan kereta cepat dan di negaranya masing-masing kereta cepatnya sudah sangat dikenal oleh dunia.

Terlepas dari masalah perebutan tender pembangunan kereta cepat yang dicanangkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo, ada satu hal yang sebenarnya masih menggajal di dalam hati saya bahkan di hati sebagian masyarakat Indonesia. Apa sudah sangat diperlukan kereta cepat Jakarta - Bandung ini? Seberapa "urgent" sih sehingga Bapak Presiden sudah mempersiapkan pembangunan kereta ini? Kita tahu, jarak antara Jakarta - Bandung ini hanya sekitar 180 kilometer, jalan tol terbentang dengan kokohnya dan akses menggunakan kereta api pun tersedia. Waktu tempuhnya yaa sekitar 3-4 jam jika menggunakan mobil atau kereta api. Memang sih, jika kita menggunakan kereta cepat waktu tempuhnya bisa jadi sekitar 30 - 40 menit saja, tapi menurut saya sih waktu yang sekarang sekitar 3-4 jam pun masih wajar.

Lagi pula kan kereta cepat semacam ini biasanya digunakan untuk menempuh jarak jauh. Kalau di Jepang sih, setahu saya biasanya jarak tempuhnya di atas 250km, itu pun yang terpendek dan rata-ratanya sih jauh. Sebagai contoh aja nih, di Jepang, ada Shinkanshen rute Tokyo - Osaka, dan menurut hasil "googling" jarak Tokyo - Osaka itu sekitar 520km, hampir 3x lipat jarak Jakarta - Bandung.

Oh ya Pak, apa yang saya ulas di atas bukan berarti saya tidak mendukung proyek-proyek pemerintah yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi atau apapun itu, namun saya hanya mendukung proyek-proyek Bapak yang pro rakyat, proyek yang sudah seharusnya dibangun dan sudah sangat dibutuhkan. Dalam hal kereta cepat ini, menurut saya sih ya saat ini kita belum terlalu membutuhkannya. Dengan fasilitas yang sudah tersedia seperti jalan tol dan kereta api, itupun untuk saat ini sudah cukup.

Saat ini kan kita juga sedang mengalami perlambatan ekonomi dan nilai tukar rupiah pun terus melemah Pak hingga telah melewati level Rp 14.100 per dollar Amerika. Untuk pembangunan kereta cepat ini tentunya menggunakan mata uang dollar dan pasti uang dollar aka keluar dari Indonesia. Kata Pak Emil Salim sih ya, dalam kondisi seperti sekarang ini seharusnya kita harus menjaga pasokan dollar kita, apabila terus keluar bisa saja pertumbuhan ekonomi kita akan jauh lebih buruk dari sekarang ini.

Menurut saya lagi (maafkan mungkin saya so tau), sebaiknya anggaran yang dipersiapkan untuk membangun kereta cepat ini Bapak pergunakan untuk pemerataan daerah-daerah di luar Jawa Pak. Seperti kita tahu, PDB Indonesia 80% berasal dari Jawa, Sumatera dan Bali, sedangkan sisanya baru dari luar ketiga daerah itu. Sungguh angka tersebut membuat ketimpangan semakin terasa antara daerah-daerah di Indonesia ini. Andai Bapak alokasikan anggarannya untuk pembangunan daearah-daearah tersebut, tidak menutup kemungkinan hal tersebut juga akan mempercepat pertumbuhan ekonomi. Bapak bisa membangun akses jalan raya, rel kereta api, bandara, pelabuhan, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan lain sebagainya. Ya, mungkin Bapak lebih tahu kondisi real di daerah-daerah lain seperti apa.

Dengan kondisi seperti itu, tidak menutup kemungkinan akan muncul kecemburuan sosial dari masyarakat di luar sana jika Bapak malah membangun proyek kereta cepat ini. Sudah di Jakarta sedang dibangun MRT pula. Saya mengatakan demikian bukan tanpa informasi, saya pernah membaca curhatan dari seseorang bahwa pembangunan di Indonesia inii terkesan Java-sentris. Orang tersebut juga sangat tidak suka lho pak dengan orang Jawa, itu karena apa, karena pembangunan di Indonesia ini belum merata dan terlalu difokuskan di Pulau Jawa. Akhirnya masyarakat sendiri yang menjadi korban "kebencian" itu pak.

Beberapa saat lalu saya menerima "Broadcast Message" dari teman saya yang  ada di Jambi. Broadcast tersebut isinya tentang surat terbuka untuk Bapak yang berjudul "Surat Riau dan Jambi Untuk Indonesia". Setelah saya baca pesan tersebut, cukup tersentuh juga dengan isinya, surat tersebut mewakili suara-suara masyarakat Riau dan Jambi yang sekarang sedang terkena dampak kabut asap akibat pembakaran lahan. Kondisi seperti itu tentunyya bukan kali ini saja terjadi, suddah sejak dulu orang sana selalu mengalami dampak tersebut. Pada pertengahan surat, disampaikan bahwa dampak yang telah dirasakan sangatlah besar dan sangat membahayakan. Disebutkan bahwa hampir 6 juta masyarakat Riau dan Jambi terkena penyakit pernapasan, wah banyak sekali yah Pak. Di surat tersebut juga disuarakan bahwa pemerintah katanya kurang peduli dan kurang memperhatikan hali tersebut, pemerintah khususnya di pusat malah mengurusi masalah internal istana saja. Nah Pak, kasus ini sebenarnya lebih "urgent" dari pembangunan proyek kereta cepat yang Bapak canangkan. Mungkin, saat ini Bapak harus lebih memperhatikan pemerataan pembangunan, ekonomi serta memperhatikan kondisi-kondisi di daerah lain.

Dulu, bukankah Bapak pernah bilang bahwa yang harus kita lakukan saat ini adalah pemerataan pembangunan di daerah. Semoga sih Bapak masih ingat dan tetap memegang perkataan Bapak itu. Memang sih yang saya baca dari berita, Bapak juga sudah melakukan pembangunan di daerah, tapi bukankah jika Bapak lebih fokus ke pembangunan daerah maka pembangunan akan lebih baik, lebih cepat dan lebih terkontrol? Anggarannya pun bisa ditambah lho Pak dari anggaran yang sudah disiapkan untuk kereta cepat ini. Kabar beredar menyebutkan kalo anggarannya sebesar Rp 87 Triliun ya Pak? Sangat fantastis sekali Pak. Memang sih anggaran segitu wajar untuk pembangunan kereta cepat itu. Menurut berita yang saya baca, katanya hanya 25% ya Pak anggaran dari hasil konsorsium BUMN dan sisanya adalah pinjaman dari pemenang tender. Nambah utang juga dong ya Pak? hehe Seandainya kita bisa melakukan pemerataan dulu, mungkin pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat Pak dan bisa jadi porsi anggaran untuk membagun kereta cepat itu bisa lebih besar yang berasal dari kita sendiri ya hehe

Keputusan tentunya tetap berada di tangan Bapak dan Bapak pun yang pastinya lebih tahu mengenai hal ini. Saya di sini hanya menyampaikan ganjalan di hati saya saja, bukan bermaksud sok tau atau apalah itu. Sekali lagi saya ucapkan mohon maaf jika terdapat kata atau kalimat yang kurang berkenan, data atau fakta yang kurang tepat dan penulisan isi yang kurang baik. Saya ucapkan selamat untuk pembangunan megaproyek ini, semoga bisa bermanfaat bagi kemajuan bangsa Indonesia.

1 komentar:

  1. Apakah Anda mencari pinjaman pinjaman asli? Anda berada di tempat yang tepat untuk solusi pinjaman Anda di sini! Pemberi pinjaman pinjaman pribadi yang memberikan kesempatan hidup pinjaman. Apakah Anda memerlukan pinjaman konsolidasi atau hipotek? Tidak terlihat lagi karena kita di sini untuk membuat semua masalah keuangan Anda menjadi sesuatu dari masa lalu. Pinjaman kami kepada individu yang membutuhkan bantuan keuangan, yang memiliki kredit buruk atau membutuhkan uang untuk membayar tagihan, untuk berinvestasi dalam bisnis dengan tarif 2%. Saya ingin menggunakan media ini untuk memberi tahu Anda bahwa kami memberikan bantuan dan penerima yang andal dan bersedia menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini via email di:
    Silahkan hubungi kami melalui e-mail via patriciajames205@gmail.com. Jadi jika Anda ingin mendapatkan pinjaman dari perusahaan saya, Anda bisa menghubungi kami hari ini.
    Terima kasih

    Nyonya Patricia James

    BalasHapus

Contact

Get in touch with me


Adress/Street

12 Street West Victoria 1234 Australia

Phone number

+(12) 3456 789

Website

www.johnsmith.com